Monday, May 11, 2015

TENTANG KEBENARAN

KEBENARAN.
SEORANG ANAK KECIL MENANGIS TERESAK-ESAK PADA SUATU TENGAH MALAM. IBU NYA BANGUN MEMBUKA LAMPU DAN TERUS MEMELUKNYA. BERKATA IBU – ‘WAHAI ANAKKU, MENGAPA KAU MENANGIS PADAHAL AKU SEDANG NYENYAK TIDUR DAN BERMIMPI BERSAMA AYAHMU YANG KINI SEMAKIN JAUH TINGGALKAN AKU. MENJAWAB ANAK – ‘IBU, KEBENARAN MENGEJUT AKU SEBENTAR TADI. DIA DATANG DENGAN WAJAH YANG SANGAT JELAS, AKU RASAI KEHADIRANNYA DENGAN YAKIN TETAPI AKU MASIH TIDAK BOLEH MENGGAMBARKANNYA. DIA MEMBERI JAWAPAN YANG PERNAH AKU TANYAKAN KETIKA AKU DIDALAM RAHIM MU. SUDAH BERTAHUN- TAHUN AKU MENANTI JAWAPAN ITU SEPERTI MANA ENGKAU MENUNGGU BAPAKU, TAPI ALASAN YANG DIBERIKAN OLEH KEBENARAN, KEHADIRANNYA KINI ADALAH ATAS ALASAN MASA YANG PALING TEPAT UNTUK KEBENARAN MUNCUL. KATANYA LAGI ; KEBENARAN ITU TETAP AKAN DATANG – CEPAT ATAU LAMBAT – BERSEDIA ATAU TIDAK – TETAPI KEHADIRAN NYA MENJANGKAU PERTIMBANGAN KITA SEBAGAI MANUSIA. IA TEPAT, JELAS DAN GUNUNG JUA TIDAK DAPAT MENOLAK NYA. SUARANYA NYARING, DIA TIDAK BOLEH DIBELI DENGAN WANG RINGGIT , WALAU DI TANAM KE DALAM TANAH LEBIH DARI TUJUH KAKI. 

DIA MENYURUH AKU MENADAHKAN TANGAN KU, KATANYA ADA HADIAH YANG INGIN DIBERIKAN. LALU AKU MENADAH TANGANKU, TETAPI APA YANG DIBERIKAN TERLALU BERAT, AKU MENJERIT MEMANGGIL IBU, MALANGNYA KAU MASIH MENYOROK DI BELAKANG KEBENARAN. KEBENARAN MEMAKSA AKU BERTAHAN. SEHINGGALAH BILA AKU TERJAGA AKU MSIH TERASA YANG KEBENARAN ITU BERAT UNTUK AKU PIKUL.

JAWAB SI IBU - WAHAI ANAKKU ; SEWAKTU KEBENARAN MEMBERIKAN SESUATU DI ATAS TANGAN MU, YA, AKU DIBELAKANGNYA. AKU TIDAK SANGGUP MELIHAT BERAT YANG KAU PIKUL. YANG MANA KEBENARAN DIHADAPAN KU TERLALU BESAR UNTUK AKU HADAPI. AKU MELIHAT KAU MEMANGGIL NAMAKU, TETAPI AKU TIDAK PASTI ADAKAH HADIAH ITU KAU SUKAI ATAU TIDAK – RIAK WAJAH MU SEPERTI MENOLAK TETAPI KAU TIDAK MELEPASKANNYA. PADA HEMAT KU MUNGKIN KAU SANGGUP TANGGUNG ATAU KAU MEMILIH UNTUK MENOLAK KEBENARAN ITU.

DUHAI ANAK.. TIDURLAH KEMBALI. KAU TAHU KEBENARAN ITU NYATA, JANGAN BIARKAN DIA MEMBUKA MATA KITA UNTUK WAKTU INI. AKU DAN KAU MASIH PERLUKAN MIMPI UNTUK MALAM INI. HARI ESOK AKU PASTI KEBENARAN BERUBAH FIKIRAN UNTUK TANGGUHKAN REALITI.

Tuesday, July 15, 2014

BETWEEN GOD AND THE BODY 

“When God took the clay from mother earth HE made a body that was without soul in fact after which he breathed life into it and invoked the creative force from the left rib cage...

Jegananthan Ramachanram is an artist who has been involved in the Malaysian and International arts scene for 32 years. To be honest, I have not had a chance to be personally acquainted with him. However, as I am the art curator at the National Art Gallery I understand his artwork 'Fall Out Of The Garden Of Life (1998) which has become part of our national collection. So when I was asked to write and share my views on his solo exhibition 'Mirroring The Center…the science of positive vibrations, which incidentally is his 10th solo exhibition, I took it as an honor and privilege.

Its very ironic to understand part of the pleasure that is shared through his paintings. Man can only appreciate light when he is in a place of darkness, to appreciate the joys of food when he has no choice but to hold back the yearnings of hunger and to appreciate happiness when having passed a time filled with sadness. Understanding the meaning of the creator by understanding the creation... this is how he mirrors his process of creation through his artworks.

I see love and compassion in all his artworks…

Ganesha, women, the heavenly peacock, the heavenly gardens, light... these are the images that Jeganathan includes in his artwork. If men use weapons like the blade, the spear and gunpowder, to attack and wage war, his arsenal of love and images in this artwork, creates an impact on the movement of humanity and peace.
Muruga 1
  The 18th century romantics at that time, used art, literature and the intellect as a movement (Romantic Art) in reaction to the real world's industrial revolution and the social upheavals of that time aimed at the bourgeois in terms of social norm and national politics. Through the poetry and art of William Blake one could see how these artworks served as a symbolic reaction to the French Revolution and slavery in America by protesting against slavery and inspiring love and humanity.

However if we look at the works of Jeganathan both past and present – which includes his poetry and his visual work, the narrative is not just romantic, sensual, spiritual and religious. Using the axis where the sciences and religion come together, Jeganathan has the ability to critique as an artist who responds to his surroundings from the social, political and economic aspect.

His works 'The Guardian and the Angel' and 'The New World Unmasked' are amongst his works that uses the image of a woman in the composition as the subject matter to his artwork. If you look at “ The World Unmasked”, Jeganathan elevates the position of the woman in the capacity of a mother to a higher level as the shaper of future generation. With the composition featuring the woman balancing herself with arms out stretched whilst being upside down, it is clear Jegananthan has his own view on the matriarchal system both in society and social context. Just like his poem  - …and the child suckling the mother,… not only drinks milk but the very essence of life, in this world the mother no more loses her beauty, the artist lives art and the physicians saves lives… which ends with the verse that states… and there she was so majestic… that my sight bowed in reverence… the hen women in the silence call, woke my spirit. Through this piece Jeganathan looks at the situation and status of the mother in a place where her surroundings is filled with pressure and impatience of numerous conflicts and societys everyday activity.

According to the scholar Johann Jacob Bachofen who lifted the status of the mother in his book called 'Mother Right', Bachofen analyses the myth and symbols of the Romans, Greeks and Egyptians of ancient times, from history of the world to the new patriarchal structures in society. Through history and the norms of the world an understanding of the role of the mother as key for the building of society and its culture. Its here that the mother is the leader of the family, the governor and a great goddess. Bachofen also believes that matrichal societies are the earliest forms of democracy where the love and comfort from a mother is one of the main moral principles, with this moral standard beginning from birth, as the person grows up and until it forms a societal group both in the populous and the social structures. In fact, from Bachofens research the mother has a role in the formation principles of motherhood and fatherhood and has a connection with human evolution. A mother's love is the seed that grows  love and altruism, and has a base in the growth of universal humanism. A mother loves unconditionally ..

Also looking at his other artworks like  “Akash Ganesh, Muruga  and  Window Within Time “ shows the gods who symbolically bring light to life and nature in protecting man through the stories and narrative that is a reflection of the teachings of Hinduism.

Mirroring the Center… the science of positive vibrations by Jeganathan will offer a different perspective when seeing the artworks created. Apart from the beautiful images, the narrative, the colors, composition, the usage of lines that seem to glow is an interesting concept in his work. This ‘lightin his artwork seem to resonate with energy around the arranged images, that indirectly brings the viewer along on the narrative.

Without being obsessive, there are too many things that I am unable to put into words in this piece. Whatever the theory or comparison that come from Jeganathan's work I feel there is an energy that exudes love and comfort for humanity. Blissful Raga that comforts the soul.

intan rafiza

DIANTARA TUHAN DAN TUBUH.

“ Sewaktu tuhan mengambil tanah dari perut bhumi, lalu  DIA mencipta sebatang tubuh tanpa jiwa, malah selepas itu ditiupkan nyawa, jiwa dan kau diberi berahi ciptaan dari rusuk kiri…”

Jeganathan Ramachanram adalah salah seorang pengkarya seni tanahair yang sudah hampir 32 tahun berkecimpung didalam dunia seni Malaysia dan antarabangsa. Sejujurnya saya tidak pernah berkomunikasi dengan beliau sebelum ini, malah menjadi pekerja seni sebagai kurator di Balai Seni Visual Negara, saya lebih kerap bersua dengan salah satu karya beliau yang menjadi koleksi tetap negara yang bertajuk ‘Fall out from the garden of life (1998)’ . Dan apabila saya diberi peluang  untuk menulis dan berkongsi pandangan tentang pameran ‘ Mirrorring the center yang mana ini adalah pameran solo beliau buat kali yang ke -10, saya merasakan ianya  satu tanda penghormatan dan peluang yang amat saya hargai.

“Terlalu ironik untuk memahami sebahagian dari nikmat yang diberikan. Manusia yang boleh menghargai cahaya apabila dia pernah berada di ruang yang sangat gelap dan hitam, enaknya makanan apabila dia mengikat perut untuk menahan lapar, kegembiraan apabila dia pernah melalui satu masa yang penuh dengan derita. Dan makna pencipta dengan memahami ciptaannya… inilah cerminan pada setiap perkara dan kejadian.” 

 Saya melihat kasih sayang.

Ganesha, Perempuan, merak kayangan, taman syurga, cahaya… adalah diantara imej yang diletakkan oleh Jeganathan dalam berkarya. Sekiranya senjata manusia untuk menyerang atau berperang adalah pisau, belati atau senapang, saya pasti dengan bersenjatakan kasih sayang dengan imej yang diutarakan  dalam karya ini cukup kuat untuk membuktikan kemanusiaan dan keamanan adalah subjek utama dalam menghasilkan karya seni beliau.

Sebagaimana dalam karya-karya di era romantism pada abad ke 18, yang mana pada waktu itu, pergerakkan seni romantik merupakan satu gerakan seni,sastera dan interlektual adalah reaksi dalam bidang kesenian kepada revolusi perindustrian dan pemberontakkan terhadap para bangsawan dalam norma-norma sosial dan politik negara. Melalui puisi dan karya seni William Blake, dapat dilihat bagaimana pada waktu itu seni dalam era romantism bertindak balas secara simbolik terhadap revolusi Perancis dan Amerika dalam menentang sistem perhambaan dalam dalam berinspirasikan rasa cinta dan kemanusiaan.

Manakala sekiranya kita melihat semula karya-karya seni oleh Jeganathan sebelum dan sehingga kini - termasuklah karangan puisi disetiap karya visual yang beliau hasilkan, naratif pada setiap jalan cerita bukanlah sekadar romantis, sensual atau bicara tentang unsur agama atau ketuhanan. Dengan berpaksikan teoritikal bagaimana sains dan agama itu bersatu, Jeganathan mempunyai daya kritis sebagai seorang pengkarya seni dalam merespon keadaan sekeliling dari sudut sosial, politik dan juga ekonomi.

Karya The guardian and the angel dan  ‘ for the new world unmasked’ adalah diantara karya yang menggunakan imej  perempuan menjadi subjek utama perletakkan komposisi dalam karya. Seperti yang dapat dilihat dalam karya “for the new world unmasked’ , Jeganathan cuba mengangkat posisi perempuan sebagai ibu kepada satu peringkat yang lebih tinggi dalam pembentukkan generasi akan datang. Dengan komposisi figura perempuan yang mengimbangi tubuh dalam keadaan terbalik dengan kedua belah tangan, nampak jelas bagaimana Jeganathan melihat dan punya pandangan tersendiri berkenaan sistem matriarkal dalam kelompok masyarakat dan sosial. Seperti mana didalam puisi beliau - …and the child suckling the mother,… not only drink milk but the very essence of life, in this world the mother no more loses her beauty, the artist lives art and the physicians saves lives…  dan diakhir perenggan puisi beliau ada menyatakan …and there she was so majestic…that my sight bowed in revence…the hen women in the silence call, woke my spirit. Melalui puisi ini, Jeganathan melihat keadaan dan status ibu dalam satu ruang yang mana disekelilingnya yang menjalani pelbagai aktiviti yang menekan dan mendesak dengan pelbagai  konflik dan aktiviti harian masyarakat. 

 
for the new world unmasked



Menurut penulisan dari ilmuwan Johann Jacob Bachofen yang mengangkat darjat ibu dalam buku beliau yang bertajuk Hak Ibu (Mother Right) , analisis Bachofen terhadap mitos-mitos dan simbol bangsa Romawi, Yunani dan Mesir yang terdahulu dari sudut struktur patriarkal dalam masyarakat melalui sejarah peradaban dunia adalah satu kefahaman baru yang mana dari pandangan beliau, peranan ibu adalah satu  permulaan yang penting pembentukkan masyarakat dan kebudayaan. Seperti mana dapat dilihat ibu menjadi ketua keluarga, pemerintah dalam struktur masyarakat dan juga dewi agung. Dan Bachofen percaya bahawasanya masyarakat matriarkal merupakan demokrasi paling awal dimana cinta dan kasih sayang dari seorang ibu merupakan salahsatu prinsip moral yang utama bermula dari melahirkan, membesarkan dan sehinggalah membentuk kelompok masyarakat dan struktur sosial. Malah dari kajian Bachofen, ibu mempunyai peranan dan prisip keibuan dalam pembentukan dan peranan kebapaan adalah berhubung dengan evolusi manusia. – kasih ibu adalah benih yang tumbuh dari setiap cinta dan altruisme (amalan mengutamakan orang lain berbanding diri sendiri) dan ianya menjadi dasar kepada perkembangan humanisme universal. Ibu mencintai anak-anaknya kerana mereka adalah anak-anak bukan mereka harus memenuhi syarat tertentu dan mengharapkan sesuatu. 

Selain daripada itu juga, karya Akash Ganesha, Muruga 1, Window witihin time, dan beberapa lagi memperlihatkan dewa dewi simbolik yang membawa cahaya kepada kehidupan dan seluruh alam dalam melindungi manusia melalui penceritaan dan naratif  dari cerminan ajaran Hinduism.

Pameran Mirroring the Center oleh pengkarya Jeganathan juga membawa pendekatan berbeza kepada penonton dalam melihat karya seni  yang dihasilkan. Selain daripada imej-imej keindahan dan naratif penceritaan, warna,komposisi dan olahan garisan yang kelihatan seperti bercahaya dari sisi yang berbeza memperlihatkan bagaimana konsep cahaya yang cuba di lakarkan dalam karya seni. Cahaya yang dihasilkan dalam karya sepertinya membentuk tenaga disekeliling imej yang disusun dan secara tidak langsung ianya membawa penonton ke dalam naratif penceritaan yang seakan-akan bergerak bersama cahaya yang di hasilkan.  

Terlalu banyak ketaksuban yang tidak mungkin saya boleh kongsi bersama dalam penulisan kali ini. Tetapi walau apapun teori atau perbandingan yang mungkin boleh dijangkakan dari karya-karya seni yang Jeganathan hasilkan, saya masih merasakan satu tenaga yang mungkin digambarkan adalah segalanya tentang kemanusiaan dan rasa cinta dan kasih sayang. Seperti indahnya alunan Raga yang dimainkan dan terus mendiami jiwa.. 
intan rafiza.